Mekanisme Transaksi Pasar Crypto

Mekanisme Transaksi Pasar Crypto

Mata uang cryptocurrency selalu mengalami fluktuasi, hal tersebut di dasarkan pada beberapa kondisi yaitu salah satunya dikarenakan ketersediaan. Nilai dari mata uang tersebut kadang mengalami peningkatan atau bahkan penurunan. Hal ini terjadi karena pemakaian dikalangan komunitas para pengguna. 

Secara umum naik dan turunnya nilai cryptocurrency telah dipengaruhi oleh mekanisme dari pasar crypto itu sendiri. Namun sayangnya pasar crypto memiliki volatilitas yang cukup tinggi sehingga sangatlah fluktuatif. 

Jika semakin banyak orang yang menginginkan mata uang tersebut, serta nilainya tidak banyak, maka nilai tersebut pun akan dapat mengalami peningkatan. Faktor lain pun kadang juga turut mempengaruhi. 

Bagaimana Mekanisme Transaksi Pasar Crypto?

 

Konsep dasar di dalam setiap transaksi cryptocurrency yaitu seluruh jaringan akan melakukan pencatatan history berjalan, termasuk di sini besaran saldo serta transaksi yang dimiliki.  Seperti contohnya seseorang telah berhasil melakukan sebuah transaksi dan dikonfirmasi oleh penerima. 

Maka nantinya seluruh jaringan yang terkoneksi ke Blockchain akan langsung mengetahui informasi yang memuat penjelasan bahwa telah terjadi transaksi dengan jumlah tertentu dan telah ditandatangani secara digital dengan menggunakan private key di dalam sistem.

Konfirmasi yang dilakukan oleh penerima ini menjadi hal yang sangatlah penting dari transaksi crypto kurensi. Yang mana transaksi ini nantinya akan disimpan dalam sebuah wadah yang disebut dengan blocks. 

Catatan dari transaksi bersifat tak dapat dibajak, diubah atau pun dipalsukan, serta menjadi bagian dalam rantai Blockchain. Oleh karena itulah transaksi di dalam cryptocurrency bersifat immutable atau tidak dapat dibatalkan ketika telah dikirim karena memang memiliki sifat permanen.

Sementara untuk Bank Indonesia sendiri secara eksplisit menyatakan larangan terhadap cryptocurrency untuk kegiatan transaksi. Pernyataan tersebut didasarkan terhadap undang – undang yang menyatakan bahwa alat pembayaran yang bisa diterima di Indonesia hanya memakai rupiah.

Namun yang perlu digaris bawahi di sini yaitu uang virtual kripto tidak serta merta dianggap ilegal, hanya saja transaksinya yang tidak diperbolehkan. Sejauh ini mayoritas orang Indonesia memanfaatkan kripto untuk sekedar menjadi instrumen investasi karena memang untuk transaksinya sendiri pun masih terbatas. Tak banyak merchant yang menerima sistem pembayaran dengan menggunakan crypto.

Larangan tersebut didasari oleh kekhawatiran akan kejahatan. ID Institute mengungkap  bahwa terdapat setidaknya tiga hal yang mungkin terjadi antara lain yaitu ancaman fisik pada para pemilik dompet, private key serta ransomware. 

Lebih jauh di sini mereka mencontohkan aspek kerentanan terhadap sistem Blockchain yang dipakai bitcoin memiliki potensi penyisipan oleh Malware yang cukup besar. Miner ini memerlukan sebuah sumber daya yang besar untuk dapat mengelola block. Aspek tersebut tentunya memiliki resiko penyebaran ransomware pada komputer yang ada di bawah kontrolnya.

Namun sifat dari ledger dalam Blockchain tetaplah aman, karena memang tidak dapat diubah oleh sembarangan orang. Hal tersebut tentunya menjadi keuntungan karena dapat membuat integrasi bisnis antara perusahaan jadi lebih efisien lagi. 

Semua orang dapat saling percaya karena seluruh data bisa terekam dengan baik dan dapat dilihat oleh pihak lain sekalipun perlu terdapat akses khusus lebih dahulu. 

Sedangkan untuk saat ini beberapa instansi besar serta perbankan di Indonesia mulai melakukan eksplorasi potensi Blockchain sebagai sebuah platform yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sekalipun tidak mengikutsertakan cryptocurrency di dalamnya.

Nah, itulah yang dapat kami jelaskan mengenai mekanisme transaksi pasar crypto yang perlu Anda ketahui.  Semoga bermanfaat .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *